Sejarah Dinasti Chou Tahun 1027 SM-221 SM
Kerajaan Chou adalah kerajaan
yang berumur panjang dalam sejarah Tiongkok (1027-221 SM). Pendiri Dinasti Chou
yang sebenarnya adalah Cho Wu Wang anak dari Chou Wen Wang, ia juga berhasil
menjatuhkan kerajaan Shang. Chou Wu Wang adalah seorang raja muda yang
menamakan dasar-dasar untuk dinasti Chou yang berdiri sesudahnya. Dalam
kepercayaan China, ia dianggap sebagai Dewa. Pada masa pemerintahan Chou Wu
Wang yaitu Chou Wen Wang mendapat kehormatan besar, karena mempunyai
sifat-sifat yang lebih tinggi dari orang lain dan juga mendapatkan kedudukan
mulia dalam sejarah Tiongkok, tidak mengherankan jika ayah dan putra ini yang
kedu-dua menjadi kepala pemerintahan yang arif dan bijaksana. Sedangkan orang
ketiga yang dijunjung tinggi dalam kerajaan Chou adalah putra Wen Wang yang
bernama Tan atau Hertog Chou.
Sistem Pemerintahan
Kerajaan Chou menggunakan sistem feudal dalam pemerintahan. Diluar
daerah kaisar kerajaan itu pecah menjadi sembilan bagian, akibat dari pembagian
tersebut menjadi masalah bagi kerajaan Chou, dan bagi negara-negara itu hidup
saling bermusuhan bahkan tidak memperdulikan kaisar dan mereka saling
berperang.
Dua tahun
setelah menjatuhkan kerajaan Shang, maka wafatlah Wu Wang dalam usia 93 tahun
kemudian digantikan oleh putranya Cheng tetapi oleh karena ia masih muda maka
Hertog Chou saudara dari Wu Wang diangkat menjadi wakil dari kaisar muda. Wen
Wang bersama putranya Wu Wang dan Hertog Chou adalah tiga orang besar yang
dilahirkan oleh kerajaan Chou.
Pemberontakan Pada Masa Li Wang
Akibat dari kesewenang-wenangan kaisar kesepuluh yaitu Li Wang,
menyebabkan timbulnya pemberontakan, yang mengakibatkan Li Wang melarikan diri
dari ibukota dan tahun pelarian Li Wang merupakan tahun yang penting bagi
penetapan sejarah Tiongkok yaitu tahun masehi. Biarpun Li Wang telah melarikan
diri, tetapi kerajaan Chou terus berlanjut. Sesudah pemberontakan itu
berlangsung, rakyat mengangkat Chou Hsiao Kung yang dulu menjabat menteri
menjadi kaisar.
Setelah ia meninggal kemudian digantikan oleh putranya Yu Wang,
yang akhirnya terbunuh akibat rayuan seorang perempuan. Kemudian oleh putra mahkotanya
yang sah, yaitu kaisar P’ing Wang, karena ia khawatir terhadap suku-suku
sebelah barat, maka ia memindahkan ibukota kerajaan dari Chang-An di lembah
Sungai Wei Ke Lo-Yang (771 SM) dan mulailah suatu zaman baru, meskipun masih
dalam masa kerajaan Chou yang dinamakan dengan zaman kerajaan Chou timur
bersamaan dengan itu tibalah masa Ch’un Ch’iu (musim semi dan musim rontok).
Khung Tze memulai catatan musim semi dan musim rontok pada tahun
ke-48 dari pemerintahan kaisar P’ing Wang ini merupakan zaman yang kacau akibat
peperangan, perserikatan diantara negara dibatalkan karena negara-negara saling
berperang, kaisar Chou mulai tidak diindahkan.
Dinasti Chou mulai runtuh ketika P’ing Wang wafat (220 SM),
kemudian digantikan dengan Huang Wang, keadaan tidak aman terus berlangsung
hingga 479 SM dan juga sering disebut negara-negara yang berperang.
Sifatt-sifat yang tidak etis dari zaman ini adalah kepala-kepala negara saling
bertemp[ur menguasai kaisar Chou.
Dalam keadaan negara sedang kacau dan masa kemunduran datanglah Lao
Tze ke istana kaisar, tapi setelah ia tidak melihat keadaan yang tidak ada
harapan lagi ia meletakan jabatan, kemudian ia mengembangkan ajarannya bahwa
keberuntungan terletak dalam hal-hal kerohanian. Dalam keadaan yang panas ini,
putra-putra bangsawan membunuh bapak mereka, saudara-saudara mereka, karena
hendak merebut kekuasaan. Karena kekuasaan kerajaan Chou tidak lagi berpengaruh
makanegara Ch’in dengan mudah merebut tahta kerajaan itu sehingga berakhirlah
dinasti Wen Wang dan Lou Wang (256 SM).
Kebudayaan dan Falsafah
Adat lembaga rakyat dapat diketahui ceritanya dalam kitab syair
yang membuat 300 syair dan nyanyian rakyat kerajaan-kerajaan Shang dan Chou.
Buku yang lain disebut Chou LI (upacara kerajaan Chou). Kedua kitab ini
dipandang lebih tinggi, karena kedua kitab ini menetapkan adat istiadat
Tiongkok yang dilakukan orang terus hingga beberapa puluh tahun sebelum ini,
Undang-undang pertanian dibuat untuk memaksa para petani untuk memprtinggikan
hasil pertanian sedapat mungkin. Demikian pula suatu peraturan buat merawat dalam masa kerajaan Chou. Dalam
agama yang dipuja adalah Shang-Ti dan leluhur “Shang-Ti” dapat diterjemahkan
“kaisar di atas”, barang-barang dari zaman Chou pertama menempatkan T’ien
sejajar dengan Shang –Ti, untuk pemujaan ditentukan pula cara-cara upacara, hal
ini terdapat dalam kitab syair dan kitab upacara.
Upacara-upacara istana banyak yang masih berlaku terus hingga abad
ke 20, salah satu diantaranya ialah ediensi atau menghadap dalam istana, yang
dilakukan pada pagi hari pada zaman kerajaan Chou.
Kaisar-kaisar Chou juga mengadakan 5 tingkat kebangsawanan :
1. Hertog
2. Nafis
3. Graaf
4. Burgraaf
5. Baron
Proses peleburan bangsa-bangsa juga sudah kelihatan dizaman Chou
.Ch’in Meng-Phia menulis bahwa dizaman Chou diambil 3 macam sikap terhadap
suku-suku liar.
1. Zaman Chou Barat (1027-771 SM) yang kuat mencoba
menyerang dan menaklukan suku-suku yang berdiam diperbatasan.
2. Zaman Ch’un Ch’in (musim semi dan musim rontok, 772-481 SM)
negara-negara kerajaan Chou terpaksa
membela diri sendiri terhadap kekuatan suku-suku bukan Thionghoa yang semakin
besar.
3. Zaman negara-negara berperang (480-227 SM), mengadakan
perhubungan dengan kaum-kaum itu dan juga dilakukan percobaan untuk bersahabat
dengan mereka.
Setelah kerajaan Chou memindahkan kekuasaannya pusatnya ke Lo-Yang
dalam 771 SM, tetapi sejak itu dinasti
tersebut mengalami kemerosotan dalam politik namun dalam kebudayaan dan
filsafat ia juga justru memuncak, huruf-huruf zaman Chou dinamakan “materai
besar” karena pada mulanya ittu dipakai diatas batu dan Yade. Karena keadaan
negara Chou yang kacau sehingga menyebabkan munculnya hli-ahli filsafat, yakni
mulai pada pertengahan kedua abad ke 6 SM. Kung Tze, Meng Tze dan Lao Tze yang
dipandang sebagai pendiri-pendiri filsafah Tionghoa, zaman peperangan yang tak
habis-habisnya dan zaman perubahan-perubahan kemasyarakatan
besar itu pada bagian kedua dari kerajaan Chou. O dan B Lattimore menulis
“karena mereka (Kung Tze, Meng Tze dan Lao Tze) muncul dalam satu tempat,
ketika orang Tionghoa sudah menemukan peradaban yang tinggi buat suatu masa
yang lama, tidak haruslah kita melakukan kesalahan dengan berfikir, bahwa
mereka mendapat ilmu filsafat Tionghoa hanya sambil duduk dan bersemedi saja.
Mereka menjadi ahli “. Filsafah adalah karena mereka hidup
dizamanperubahan-perubahan yang sedang berlaku membuat orang berpikir,
pemikir-pemikir besar adalah mereka yang menengok kembali ke zaman yang sudah
lampau, yang kaya tugu-tugu pikira, tradisi, kesusastraan, paham agama dan
paham kemasyarakatan”.
Klung-Fu-Tze
dilatinkan menjadi confucius, Kung Tze, sebenarnya bukan nama melainkan suatu
gelaran/sebutan. Kung Chung Nu, Kung Tze
boleh dipandang sebagai pendiri kesusastraan Tionghoa.
Letak Dasar Kesusastraan Tionghoa
Di zaman ini mulai diletakan dasar kesusastraan Tionghoa dasar itu
adalah yang dinamakan “lima klasik” dan “empat buku”, lima klasik itu ialah:
1. Shu Ching (kitab sejatrah)
2. Shih Ching (kitab syair)
3. I Ching (kitab peramalan)
4. Lihchi (kitab adat)
5. Ch’un Ch’in (catatan musim semi dan musim rontok)
Suatu kumpulan buku-buku yang berharga bagi kesusastraan Tionghoa
dan tidak bertentangan dengan ajaran confocius ada empat buku yaitu:
1. Lun Yu (anoleets)
2. Meng Tze (mencius)
3. Ta Hsiich (ajaran besar)
4. Chung Yung (wikipedia, sejarah cina).
Ajaran-Ajaran Kung Tze
Sifat utama dari ajaran confocius ialah”Hsiao” yang artinya
kebaktian. Pelajaran Kung Tze berputar disekitar pemerintahan negara dan
keluarga, yang dicita-citakan Kung Tze adalah “Chun Tze” yang jika
diterjemahkan dalam bahasa Inggris yaitu “gentelmen”. Adat yang menganggap
bahwa filsafah confocius mirip dengan angan-angan Plato. Kung Tze menganggap
bahwa suatu kepala harus menjadi seorang bapak dalam sebuah keluarga, dengan
bantuan Kung Tze negara Lu menjadi makmur tetapi walaupun ajaran Kung Tze hanya
suatu ilmu filsafah belaka. Beberapa abad kemudia dizaman Han, ajaran itu retak
dijadikan agama negara dengan mendapat sedikit perubahan. Meng Tze atau Mencius
alias Meng Ko adalah murid Kung Tze yang terbesar. Meng Tze juga mengajarkan
demokrasi, ucapan yang terkenal yaitu: “Min Wei Kuci” yaitu “rakyat ialah yang
utama”.
Setelah keadaan kerajaan
Chou semakin rusak, Lao Tze melepaskan jabatannya bdan mengasingkan diri dari
pergaulan dunia. Murid yang utama dari Lao Tze ialah Chuang Tze dan ia hidup
sezaman mirid yang terkemuka dari Kung Tze. Ajaran-ajaran Lao Tze menjadi
saingan besar buat confucianisme, zaman Chou bagi Tiongkok adalah zaman
penting. Peninggalannya dalam berbagai hal seperti upacara peradaban, ilmu
filsafah, ilmu syair, kebudayaan, dan lain-lain sampai sekarang tetapi peroleh
penghargaan umum (blogspot.com, sejarah asia timur).
DAFTAR RUJUKAN
Wikipedia.
2012. Sejarah Cina. Online diakses langsung tanggal 09 september 2013.
Sejarawanmuda,
blogspot.com.2011.Sejarah Asia Timur. Online diakses langsing tanggal 09
September 2013.
0 komentar:
Posting Komentar